Lansia Jadi Kelompok Rentan Pinjol di Jabar, Outstanding Capai Rp23 Triliun
BANDUNG – Fenomena pinjaman online (pinjol) masih menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Tingginya nilai pinjaman yang beredar di masyarakat disertai meningkatnya kerentanan kelompok lanjut usia (lansia) terhadap penyalahgunaan layanan keuangan digital.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total outstanding atau pinjaman yang masih berjalan di Jawa Barat pada 2026 mencapai Rp23 triliun. Dari jumlah tersebut, kelompok lansia disebut menjadi salah satu kategori yang paling rentan terdampak.
Staf Ahli Gubernur Jawa Barat Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Lusi Lesminingwati, mengatakan besarnya jumlah penduduk Jawa Barat yang mencapai sekitar 52 juta jiwa turut menjadi faktor tingginya potensi masyarakat terjerat pinjaman online.
“Pinjol ini menjadi perhatian bersama. Dengan jumlah penduduk yang besar, potensi kerawanan juga tinggi. Berdasarkan data OJK, outstanding pinjol di Jawa Barat mencapai Rp23 triliun dan mayoritas kasus bermasalah ditemukan pada kelompok lansia,” ujar Lusi di Soreang, Kabupaten Bandung, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, banyak lansia yang masuk dalam persoalan pinjol bukan karena mengajukan pinjaman sendiri. Dalam sejumlah kasus, data pribadi mereka justru digunakan oleh anggota keluarga untuk mengakses layanan pinjaman digital.
Penyalahgunaan identitas seperti KTP dan data kependudukan lainnya oleh anak maupun cucu menjadi salah satu persoalan yang kerap ditemukan. Kondisi tersebut membuat banyak lansia tidak menyadari bahwa identitas mereka telah digunakan untuk mengajukan pinjaman.
Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Jawa Barat akan memperkuat edukasi literasi keuangan digital melalui program Sekolah Lansia dan Rumah Ramah Lansia (RRL). Materi mengenai bahaya pinjol serta pentingnya menjaga keamanan data pribadi akan dimasukkan dalam kurikulum pembelajaran.
“Kami ingin para lansia memahami risiko penyalahgunaan data pribadi. KTP, nomor identitas, dan dokumen penting lainnya harus dijaga agar tidak digunakan oleh pihak lain tanpa sepengetahuan mereka,” kata Lusi.
Melalui program edukasi tersebut, Pemprov Jabar berharap kelompok lansia semakin memahami pentingnya keamanan data pribadi serta mampu menghindari berbagai risiko yang muncul akibat penyalahgunaan pinjaman online.

Posting Komentar