Menyelami Filosofi Keris di Lereng Lawu, Paras Sujiwo Sambangi Empu Aji Guno Anom
![]() |
| Empu Aji Guno Anom Mageti V saat mengamati sebuah tombak bersama sosok teknokrat budaya, Paras Sujiwo (Foto: BeritaJabar24) |
MAGETAN — Di sebuah besalen sederhana di lereng timur Gunung Lawu, suara denting besi masih terdengar bersahut dengan bara api yang menyala pelan. Tempat itu menjadi salah satu ruang yang masih mempertahankan tradisi lama di tengah kehidupan modern yang bergerak serba cepat dan digital.
Pada 9 Mei 2026, Paras Sujiwo, teknokrat budaya sekaligus kolektor keris asal Klaten, datang menyambangi kediaman Empu Aji Guno Anom Mageti V di Desa Kedungpanji, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Pertemuan berlangsung hangat di dalam besalen, rumah tempa tradisional tempat sebilah keris lahir melalui perpaduan keterampilan tangan, ketekunan batin, serta doa-doa yang menyertai proses pembuatannya.
Bagi Empu Aji Guno Anom, keris bukan sekadar benda antik ataupun senjata tradisional. Ia memandang pusaka sebagai simbol perjalanan batin manusia Nusantara yang memiliki makna jauh lebih dalam dibanding bentuk fisiknya.
Empu yang memiliki nama asli Muhammad Teguh Budi Santoso itu menjelaskan bahwa keris memiliki dua dimensi utama, yakni dimensi lahiriah dan batiniah. Dimensi lahiriah terlihat dari bentuk, pamor, dan keindahan visualnya. Sementara dimensi batiniah berkaitan dengan energi, filosofi, doa, dan karakter spiritual yang melekat dalam proses penciptaannya.
Menurutnya, banyak orang hanya terpaku pada tampilan keris, padahal inti pusaka justru berada pada “roso” atau kedalaman rasa yang terkandung di dalamnya. Ia meyakini setiap keris memiliki energi tersendiri karena proses pembuatannya tidak hanya melibatkan teknik, tetapi juga laku spiritual sang empu.
Dalam tradisi perkerisan Jawa, seorang empu tidak hanya dituntut mampu menempa logam. Ia juga menjalani proses batin melalui roso cipto, ketekunan, dan pinuwunan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Karena itu, bentuk keris dipandang sebagai simbol lahiriah dari doa-doa yang menyertainya. Bagi para empu tradisional, pusaka bukan sekadar hasil kerja mekanis, melainkan perpaduan antara keterampilan, konsentrasi rasa, dan penghayatan spiritual.
Pandangan tersebut menjadi pembeda antara keris sebagai pusaka budaya dengan benda kerajinan biasa. Dalam dunia tosan aji, kualitas sebuah keris tidak hanya ditentukan material atau keindahan bentuknya, tetapi juga “isi” yang dipercaya lahir dari niat dan karakter pembuatnya.
Empu Teguh menuturkan, ada keris yang secara visual tampak sederhana tetapi memiliki energi besar. Sebaliknya, ada pula keris yang terlihat indah namun kosong secara spiritual. Bahkan dalam beberapa kasus, keris yang dibuat khusus dapat mencerminkan watak pemesannya.
Karena itu, dunia keris tidak pernah selesai dibahas. Ia bergerak di antara seni, simbol, spiritualitas, psikologi, dan kebudayaan Jawa.
Empu Aji Guno Anom sendiri berasal dari garis panjang trah empu Mageti. Ia merupakan putra dari Paku Rodji, empu legendaris Magetan yang dikenal luas di kalangan pecinta tosan aji.
Paku Rodji disebut sebagai keturunan ke-16 Mpu Supodriyo melalui jalur Dewi Rasa Wulan, adik Sunan Kalijaga. Trah tersebut dipercaya menjaga tradisi empu sejak masa akhir Majapahit.
Dalam sejarah perkerisan Mageti, salah satu pusaka paling dikenal adalah keris Kiai Bondoyudo milik Pangeran Diponegoro yang dibuat oleh Mpu Guno Sasmito Utomo atau Ki Ageng Mageti pada era Mageti I. Keris tersebut dikenal sebagai salah satu pusaka ageman utama yang dibawa Diponegoro dalam Perang Jawa melawan Belanda.
Kini, amanah sebagai penerus tradisi berada di tangan Teguh Budi Santoso yang dikenal sebagai Mpu Mageti V. Amanah itu diterimanya setelah sang ayah wafat dan meninggalkan sejumlah pesanan keris yang belum selesai dikerjakan.
Ia mengenang pesan sang ayah yang menyebut bahwa menjadi empu bukan sekadar pekerjaan, melainkan tugas hidup yang harus dijalani.
Bagi Empu Aji Guno Anom, membuat keris adalah bentuk pengabdian terhadap amanat leluhur sekaligus panggilan jiwa.
Meski dunia keris kerap dikaitkan dengan hal-hal mistik, Empu Teguh menegaskan pentingnya menempatkan pusaka secara proporsional. Ia menolak anggapan bahwa keris harus dipuja atau dikultuskan secara berlebihan.
Menurutnya, keris hanyalah alat untuk membantu manusia lebih mengenal diri dan mendekat kepada Sang Pencipta, bukan sesuatu yang layak dituhankan.
Pandangan itu memperlihatkan bagaimana tradisi perkerisan di Magetan dipahami bukan sebagai praktik yang bertentangan dengan nilai religius, melainkan media kontemplasi dan pengingat spiritual.
Ia juga memandang keris sebagai bagian penting dari identitas budaya bangsa. Hal itu sejalan dengan pengakuan UNESCO yang menetapkan keris sebagai warisan budaya dunia nonbendawi pada 2005.
Namun baginya, pengakuan internasional saja tidak cukup. Tradisi hanya akan tetap hidup apabila terus dipelajari, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Posting Komentar