Dedi Mulyadi Desak Polres Tertibkan Perlintasan Ampera di Kota Bekasi
![]() |
| Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Istimewa) |
KOTA BEKASI — Perlintasan sebidang di Jalan Ampera, Bekasi Timur, masih menyisakan persoalan serius pascakecelakaan yang melibatkan KRL, taksi Green SM, dan KA Argo Bromo Anggrek beberapa hari lalu. Walau operasional kereta api telah kembali normal, kondisi pengamanan di lokasi belum menunjukkan pemulihan yang memadai.
Rekaman video yang beredar pada Jumat (1/5/2026)
memperlihatkan aktivitas penjagaan oleh sejumlah warga di sekitar rel. Mereka
mengatur lalu lintas kendaraan secara manual, menggantikan fungsi petugas resmi
yang semestinya bertugas di titik tersebut.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran baru terkait
keselamatan pengguna jalan. Fasilitas pengamanan di perlintasan tersebut masih
minim. Tidak terdapat palang pintu otomatis maupun sistem peringatan standar,
sehingga pengendalian arus kendaraan sepenuhnya bergantung pada inisiatif warga
di lapangan.
Perlintasan Ampera sendiri diketahui menjadi titik awal
rangkaian kecelakaan fatal yang menewaskan 16 orang. Ketiadaan sistem
pengamanan yang memadai diduga berkontribusi terhadap tingginya risiko di
lokasi tersebut.
Menanggapi kondisi ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
meminta aparat kepolisian segera menertibkan pihak-pihak nonresmi yang
mengelola area perlintasan. Ia menegaskan bahwa pengelolaan fasilitas publik
tidak boleh berada di luar otoritas resmi.
“Seluruh jajaran Polres Kota Bekasi segera ambil tindakan
hari ini. Ini permintaan saya sebagai Gubernur Jawa Barat. Tidak boleh ada lagi
ormas atau praktik premanisme yang menguasai aset umum untuk kepentingan
pribadi. Saya kira tingkat Polsek saja bisa menyelesaikan,” ujarnya.
Selain penertiban, Dedi juga menekankan perlunya langkah
cepat untuk menekan risiko kecelakaan. Ia mengusulkan pemasangan palang pintu
sebagai solusi sementara sambil menunggu pembangunan infrastruktur permanen
berupa flyover.
“Flyover akan dibangun. Dalam jangka pendek, palang pintu
harus dipasang sebagai pengamanan. Dalam waktu satu minggu ini harus sudah
terealisasi,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas
Perhubungan telah mengambil alih pengamanan di dua titik perlintasan, yakni
Ampera dan Bulak Kapal. Saat ini, sistem penjagaan masih menggunakan palang
manual sambil menunggu penanganan lanjutan.
Sementara itu, warga yang selama ini berjaga di lokasi menyanggah
adanya keterlibatan organisasi kemasyarakatan. Salah satu penjaga, Erfan (40),
menyebut aktivitas tersebut murni inisiatif warga sekitar.
“Tidak ada ormas. Ini relawan dari lingkungan sini,”
ujarnya.
Erfan menjelaskan, sebagian warga terlibat karena
keterbatasan lapangan pekerjaan. Namun, mereka menyatakan siap mengikuti
kebijakan pemerintah maupun PT KAI dalam penataan ke depan.
Ia juga menyoroti faktor lain yang memperumit situasi di
lapangan, yakni rendahnya disiplin pengendara. Menurutnya, sebelum insiden
terjadi, pengawasan di lokasi sangat terbatas dan tidak melibatkan petugas
resmi, sehingga penjagaan hanya mengandalkan relawan dengan jumlah terbatas.

Posting Komentar